Sunday, June 10, 2012

Keteladanan Nabi Muhammad SAW

Beliau adalah manusia seperti manusia yang lain dalam  naluri, fungsi fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan  Tuhan  dan kedudukan   istimewa  di  sisi-Nya,  sedang  yang  lain  tidak demikian. Seperti halnya permata adalah jenis batu  yang  sama jenisnya  dengan  batu  yang  di  jalan,  tetapi  ia  memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh  batu-batu  lain.  Dalam bahasa  tafsir Al-Quran, “Yang sama dengan manusia lain adalah basyariyah bukan  pada  insaniyah.”  Perhatikan  bunyi  firman tadi: basyarun mitslukum bukan insan mitslukum.

Atas  dasar  sifat-sifat  yang agung dan menyeluruh itu, Allah Swt. menjadikan beliau sebagai  teladan  yang  baik  sekaligus sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan)

“Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang  mengharapkan  (ridha)  Allah  dan   ganjaran   di   hari kemudian.” (QS Al-Ahzab [33]: 2l).


Keteladanan  tersebut  dapat  dilakukan  oleh  setiap manusia, karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji  yang  dapat dimiliki oleh manusia Dalam  konteks  ini,  Abbas  Al-Aqqad,  seorang  pakar  Muslim kontemporer menguraikan bahwa manusia  dapat  diklasifikasikan ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerta, dan yang tekun beribadah.

Sejarah hidup Nabi  Muhammad  Saw.  membuktikan  bahwa  beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut. Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya  sungguh  mengagumkan setiap orang yang bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim  akan  kagum berganda  kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu  dan  kemanusiaan,  dan  kedua  kali  pada  saat memandangnya dengan kacamata iman dan agama.

Banyak  fungsi  yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad Saw., antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan)  (QS Al-Fath [48]: 8), yang pada akhirnya bermuara pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta. Di sini fungsi beliau sebagai  syahid/syahid  akan  dijelaskan agak mendalam.

Demikian  itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad Saw.) menjadi saksi terhadap kamu … (QS Al-Baqarah [2]: 143)

Kata  syahid/syahid  antara  lain  berarti “menyaksikan,” baik dengan   pandangan   mata   maupun   dengan   pandangan   hati (pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat Islam pada posisi  tengah,  agar  mereka  tidak  hanyut   pada   pengaruh kebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung tinggi ke alam ruhani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada  di antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi saksi dalam  arti  patron/teladan  dan  skala  kebenaran  bagi umat-umat  yang  lain,  sedangkan  Rasulullah  Saw.  yang juga berkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan  teladan bagi  umat Islam. Kendati ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. akan  menjadi  saksi di  hari  kemudian  terhadap  umatnya dan umat-umat terdahulu, seperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa’  (4): 41:

Maka  bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti apabila Kami menghadirkan  seorang  saksi  dari  tiap-tiap  umat  dan  Kami hadirkan  pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka (QS Al-Nisa, [4]: 41).

Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih  oleh  mereka  yang menelusuri  jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka yang  menurut  Ibnu  Sina  disebut  “orang  yang  arif,” mampu memandang rahasia Tuhan  yang  terbentang  melalu  qudrat-Nya. Tokoh  dari  segala saksi adalah Rasulullah Muhammad Saw. yangsecara tegas  di   dalam  ayat  ini  dinyatakan  “diutus  untuk menjadi syahid (saksi).”



Sikap Allah Swt. terhadap Nabi Muhammad Saw.

Dari  penelusuran  terhadap ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. telah diseru  oleh  Allah dengan  nama-nama  mereka;  Ya Adam…, Ya Musa…, Ya Isa…, dan sebagainya. Tetapi terhadap Nabi Muhammad Saw., Allah Swt. sering  memanggilnya  dengan  panggilan  kemuliaan, seperti Ya ayyuhan Nabi…, Ya ayyuhar Rasul…, atau memanggilnya dengan panggilan-panggilan  mesra,  seperti  Ya  ayyuhal muddatstsir, atau ya ayyuhal muzzammil (wahai orang yang berselimut). Kalau pun  ada  ayat  yang menyebut namanya, nama tersebut dibarengi dengan gelar kehormatan.  Perhatikan  firman-Nya  dalam  surat Ali-’Imran (3): 144, Al-Ahzab (33): 40, Al-Fat-h (48): 29, dan Al-Shaff (61): 6.

Dalam konteks ini dapat dimengerti mengapa  Al-Quran  berpesan kepada kaum mukmin. “Janganlah  kamu  menjadikan  panggilan kepada Rasul di antara kamu, seperti panggilan sebagian  kamu  kepada  sebagian  yang lain… (QS Al-Nur [24]: 63). Sikap  Allah  kepada  Rasul  Saw.  dapat  juga  dilihat dengan membandingkan sikap-Nya terhadap Musa a.s. Nabi Musa a.s. bermohon agar Allah  menganugerahkan  kepadanya kelapangan  dada,  serta  memohon agar Allah memudahkan segala persoalannya. “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku  dan  mudahkanlah  untukku urusanku (QS Thaha [20]: 25-26).

Sedangkan  Nabi  Muhammad  Saw. memperoleh anugerah kelapangan dada tanpa  mengajukan  permohonan.  Perhatikan  firman  Allah dalam  surat  Alam  Nasyrah,  Bukankah  Kami telah melapangkan dadamu? (QS Alam Nasyrah [94]: 1).

Dapat diambil kesimpulan  bahwa  yang  diberi  tanpa  bermohon tentunya   lebih   dicintai   daripada   yang  bermohon,  baik permohonannya dikabulkan, lebih-lebih yang tidak.

Permohonan Nabi Musa a.s. adalah  agar  urusannya  dipermudah, sedangkan   Nabi  Muhammad  Saw.  bukan  sekadar  urusan  yang dimudahkan Tuhan, melainkan beliau  sendiri  yang  dianugerahi kemudahan. Sehingga betapapun sulitnya persoalan yang dihadapi –dengan pertolongan Allah-beliau akan mampu  menyelesaikannya. Mengapa demikian? Karena Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad dalam surat Al-A’la (87): 8:

“Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah.”

Mungkin saja urusan telah mudah, namun seseorang, karena  satu dan  lain  sebab-tidak  mampu  menghadapinya. Tetapi jika yang bersangkutan telah memperoleh kemudahan, walaupun sulit urusan tetap akan terselesaikan.

Keistimewaan yang dimiliki beliau tidak berhenti di sana saja.Juga dengan  keistimewaan   kedua,  yaitu  “jalan  yang  beliau tempuh  selalu  dimudahkan  Tuhan”  sebagaimana tersurat dalam firman Allah, “Dan Kami mudahkan kamu ke  jalan  yang  mudah.” (QS Al-A’la [87]: 8).

Dari  sini  jelas  bahwa apa yang diperoleh oleh Nabi Muhammad Saw. melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa  a.s.,  karena beliau  tanpa  bermohon  pun  memperoleh  kemudahan  berganda, sedangkan Nabi Musa a.s. baru memperoleh  anugerah  “kemudahan urusan” setelah mengajukan permohonannya.

Itu  bukan  berarti  bahwa  Nabi Muhammad Saw. dimanjakan oleh Allah, sehingga beliau tidak akan  ditegur  apabila  melakukan sesuatu yang kurang wajar sebagai manusia pilihan.

Dari  Al-Quran  ditemukan  sekian banyak teguran-teguran Allah kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yang lemah lembut

Perhatikan teguran firman Allah  ketika  beliau  memberi  izin kepada beberapa orang munafik untuk tidak ikut berperang.

“Allah   telah  memaafkan  kamu.  Mengapa  engkau  mengizinkan mereka? (Seharusnya izin itu engkau berikan) setelah  terbukti bagimu  siapa  yang  berbohong dalam alasannya, dan siapa pula yang berkata benar (QS Al-Tawbah [9]: 43)

Dalam ayat tersebut Allah mendahulukan penegasan bahwa  beliau telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan “kekeliruannya.”

Teguran  keras  baru  akan  diberikan  kepada  beliau terhadap ucapan yang mengesankan bahwa beliau mengetahui  secara  pasti orang  yang  diampuni Allah, dan yang akan disiksa-Nya, maupun ketika  beliau  merasa  dapat  menetapkan  siapa  yang  berhak disiksa.

“Engkau  tidak  mempunyai  sedikit  urusan pun. (Apakah) Allah menerima tobat mereka atau menyiksa mereka (QS Ali ‘Imran [3]: 128).

Perhatikan  teguran  Allah  dalam surat ‘Abasa ayat 1-2 kepada Nabi Muhammad Saw., yang tidak mau melayani  orang  buta  yang datang  meminta  untuk  belajar  pada  saat  Nabi  Saw. Sedang melakukan  pembicaraan  dengan  tokoh-tokoh  kaum  musyrik  di Makkah

“Dia  (Muhammad)  bermuka  masam  dan  berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya…”Teguran ini dikemukakan dengan  rangkaian  sepuluh  ayat,  dan diakhiri dengan:

“Sekali-kali  jangan  (demikian).  Sesungguhnya  ajaran-ajaran Allah adalah suatu peringatan” (QS ‘Abasa [80]: 11).

Nabi berpaling dan  sekadar  bermuka  masam  ketika  seseorang mengganggu konsentrasi dan pembicaraan serius pada saat rapat; hakikatnya dapat dinilai sudah  sangat  baik  bila  dikerjakan

oleh  manusia biasa. Namun karena Muhammad Saw. adalah manusia pilihan, sikap dernikian itu dinilai kurang tepat, yang  dalam istilah Al-Quran disebut zanb (dosa).

Dalam  hal  ini ulama memperkenalkan kaidah: Hasanat al-abrar, sayyiat al-muqarrabin, yang berarti “kebajikan-kebajikan  yang dilakukan  oleh orang-orang baik, (dapat dinilai sebagai) dosa

(bila diperbuat oleh) orang-orang yang dekat kepada Tuhan.”

sumber: http://darunnajah.ac.id

Category